Rabu, 27 September 2017

Glaukoma





   
Glaukoma adalah jenis gangguan penglihatan yang ditandai dengan terjadinya kerusakan pada saraf optik yang biasanya diakibatkan oleh adanya tekanan di dalam mata. Gejala-gejala glaukoma dapat berupa:

  • Nyeri pada mata
  • Sakit kepala
  • Melihat bayangan lingkaran di sekeliling cahaya
  • Mata memerah
  • Mual atau muntah
  • Mata berkabut (khususnya pada bayi)
  • Penglihatan yang makin menyempit hingga pada akhirnya tidak dapat melihat obyek sama sekali
  • Glaukoma-alodokter

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua terbesar di seluruh dunia setelah katarak. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data yang didapat oleh Kementrian Kesehatan (kemenkes), prevalensi penderita glaukoma pada tahun 2007 mencapai 4,6 per 1000 penduduk.

Penyebab glaukoma
Penyebab glaukoma adalah meningkatnya tekanan di dalam mata (tekanan intraokular), baik akibat produksi cairan mata yang berlebihan, maupun akibat terhalangnya saluran pembuangan cairan tersebut. Tekanan ini dapat merusak serabut saraf retina atau jaringan saraf yang melapisi bagian belakang mata dan saraf optik yang menghubungkan mata ke otak juga. Hingga kini, belum jelas kenapa produksi cairan mata bisa berlebihan atau kenapa saluran pembuangannya bisa tersumbat.
Jenis glaukoma
Dua jenis glaukoma yang paling umum adalah glaukoma sudut tertutup dan glaukoma sudut terbuka.
Kasus glaukoma sudut tertutup lebih banyak ditemukan di negara-negara asia. Pada kondisi ini, tekanan yang terjadi di dalam mata disebabkan oleh drainase yang buruk akibat kanal pembuangan terblokir oleh sempitnya sudut antara kornea dan iris.
Sedangkan pada kasus glaukoma sudut terbuka, struktur mata tampak normal namun ada masalah di dalam saluran mata yang disebut trabecular meshwork. Masalah ini menyebabkan cairan mata tidak bisa mengalir dengan baik.
Selain dua jenis glaukoma di atas, ada lagi jenis glaukoma lainnya yaitu glaukoma sekunder dan glaukoma kongenital. Glaukoma sekunder disebabkan oleh peradangan pada lapisan tengah mata (uveitis) atau cedera pada mata. Sedangkan glaukoma kongenital disebabkan oleh kelainan pada mata (kondisi bawaan). Glaukoma kongenital diidap oleh anak-anak.

Diagnosis glaukoma
Karena glaukoma menyebabkan saraf optik terganggu, maka diagnosis akan difokuskan pada hal tersebut. Dokter mata akan memeriksa daya penglihatan pasien melalui pupil yang melebar (dilatasi). Sebuah prosedur untuk memeriksa tekanan mata juga akan dilakukan. Prosedur ini disebut tonometri. Dokter juga akan melakukan tes lapang pandang untuk memeriksa apakah penglihatan tepi pasien telah berkurang.

Pengobatan glaukoma
Sangat penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika Anda mengalami penurunan daya lihat yang mungkin saja disebabkan oleh glaukoma. Kerusakan mata yang ditimbulkan oleh glaukoma tidak dapat diobati atau diperbaiki kembali. Namun tujuan pengobatan kondisi ini adalah untuk mengurangi tekanan intraokular pada mata dan mencegah meluasnya kerusakan pada mata. Secara umum, glaukoma bisa ditangani dengan obat tetes mata, obat-obatan yang diminum, terapi laser, serta operasi.

Gejala Glaukoma
Gejala glaukoma bisa terjadi secara cepat (akut) atau bisa juga secara perlahan-lahan (kronis).
Pada kasus glaukoma sudut tertutup, sering kali gejala berkembang dengan cepat atau akut. Orang yang terkena kondisi ini akan mengalami gejala nyeri dan merah pada mata, penglihatan menjadi buram, sakit kepala, mual dan muntah, seperti melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu. Gejala glaukoma sudut tertutup akut bisa muncul-hilang selama satu atau dua jam. Meskipun tidak konstan, namun kondisi mata makin rusak tiap kali gejala muncul.
Berbeda dengan glaukoma sudut tertutup, gejala pada kasus-kasus glaukoma sudut terbuka sering kali berkembang secara perlahan-lahan atau kronis. Penderita kondisi ini hampir tidak menyadari kerusakan yang terjadi pada mata mereka. Ciri-ciri utama glaukoma sudut terbuka kronis adalah menurunnya penglihatan tepi pada kedua mata secara perlahan-lahan, sebelum akhirnya menjadi sangat sempit atau tunnel vision.

Kasus glaukoma yang jarang terjadi
Dua jenis glaukoma yang lainnya adalah glaukoma sekunder dan kongenital. Pada kasus glaukoma sekunder, gejala glaukoma akan disertai oleh gejala dari kondisi yang mendasari. Contohnya adalah glaukoma yang disebabkan oleh uveitis. Disamping penglihatan menjadi buram atau seperti melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu, penderita juga akan merasakan nyeri pada mata dan kepalanya yang juga merupakan gejala dari uveitis.
Sedangkan pada kasus glaukoma kongenital atau bawaan, gejala yang bisa muncul pada anak-anak di antaranya:

  • Mata tampak berair dan berkabut
  • Mata menjadi sensitif terhadap cahaya
  • Mata terlihat membesar (akibat tekanan yang terjadi di dalam mata)
  • Mata terlihat juling

Segera bawa anak Anda ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan jika mereka memiliki tanda-tanda glaukoma kongenital.

Penyebab Glaukoma
Glaukoma terjadi ketika tekanan di dalam mata meningkat akibat cairan mata tidak bisa mengalir dengan baik. Tekanan yang meningkat inilah yang kemudian merusak jaringan saraf pelapis bagian belakang mata yang peka terhadap cahaya (serabut saraf retina) dan saraf yang mengubungkan mata dengan otak (saraf optik).
Cairan mata atau (aqueous humour) merupakan zat penting yang terdapat di dalam mata kita. Tiap hari zat ini diproduksi dan dialirkan secara konstan dari mata ke aliran darah melalui saluran drainase yang disebut trabecular meshwork. Aqueous humour juga menghasilkan tekanan guna menjaga bentuk mata kita. Pada mata orang sehat, aqueous humour mengalir dengan lancar dan tekanan tetap berada pada batas yang aman. Sebaliknya, pada penderita glaukoma, aliran aqueous humour terganggu dan tekanan di dalam mata meningkat.
Salah satu penyebab terhambatnya aliran aqueous humour adalah trabecular meshwork yang terblokir. Hingga kini, faktor yang mendasari penyempitan saluran tersebut masih belum diketahui.
Berikut ini sejumlah faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena glaukoma, di antaranya:

  • Berusia di atas 60 tahun.
  • Pernah mengalami cedera pada mata atau menjalani operasi mata.
  • Pernah terdiagnosis mengalami tekanan mata tinggi atau hipertensi okular.
  • Menderita penyakit mata yang lain (misalnya rabun jauh).
  • Memiliki anggota keluarga yang juga menderita glaukoma.
  • Menggunakan obat kortikosteroid, terutama tetes mata, pada jangka waktu lama.
  • Menderita penyakit anemia sel sabit, diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung.
  • Mengalami defisiensi estrogen di usia dini (pada wanita)


Diagnosis Glaukoma
Dalam mendiagnosis glaukoma, selain menanyakan gejala yang pasien rasakan, dokter mata juga akan membutuhkan keterangan mengenai riwayat kesehatan mereka. Dan untuk menguatkan diagnosis, dokter akan melakukan sejumlah tes, di antaranya:

  • Tes tonometry, yaitu pemeriksaan untuk mengukur tekanan di dalam mata. Sebelum tes ini dilakukan, mata pasien akan ditetesi obat bius . Tes tonometry dilakukan dengan bantuan sebuah alat yang dinamakan  tonometer. Alat ini dilengkapi dengan lampu biru di ujungnya. Dokter akan menempelkan tonometer pada mata untuk mengukur tekanan intraokular.
  • Tes perimetri atau tes lapang pandang. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa semua area lapan pandang pasien, termasuk lapang pandang perifer (samping).  Saat tes perimetri dilakukan, pasien akan disuruh melihat rangkaian titik-titik cahaya. Titik-titik cahaya ini sebagian akan terlihat di arealapang pandang periferal (sekitar sisi bola mata) apabila mata pasien sehat. Sebaliknya, jika pasien mengalami glaukoma, titik cahaya tersebut tidak akan tampak dalam lapang pandang periferal.
  • Tes gonioscopy. Pemeriksaan ini bertujuan memeriksa sudut di antara iris dan kornea yang merupakan tempat saluran pembuangan cairan mata. Dokter perlu mengetahui apakah sudut tersebut terbuka atau tertutup.
  • Tes ophthalmoscopy,yaitu pemeriksaan untuk melihat gangguan di area belakang mata. Dalam pemeriksaan ini, mata pasien akan ditetesi obat khusus sehingga pupil mereka membesar. Setelah itu dokter akan meneliti mata pasien dengan sebuah alat. Pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa pemeriksaan langsung, pemeriksaan tidak langsung, dan pemeriksaan menggunakan slit-lamp.
  • Tes pachymetry, yaitu pemeriksaan untuk mengukur ketebalan kornea.


Pengobatan Glaukoma
Glaukoma harus didiagnosis dan diobati sedini mungkin. Jika kondisi ini diabaikan, maka penyakit ini akan terus berkembang dan penderitanya bisa mengalami kebutaan permanen.
Kerusakan mata yang ditimbulkan oleh glaukoma memang tidak dapat diobati secara total (penglihatan tidak bisa sepenuhnya normal kembali). Namun tujuan pengobatan kondisi ini adalah untuk mengurangi tekanan intraokular pada mata dan mencegah meluasnya kerusakan pada mata.
Glaukoma bisa ditangani dengan obat tetes mata, obat-obatan yang diminum, pengobatan laser, atau prosedur operasi.

Obat tetes mata
Umumnya obat tetes mata sering menjadi bentuk penanganan pertama untuk glaukoma yang disarankan oleh dokter. Obat tetes ini berguna melancarkan pembuangan cairan mata (aqueous humour) atau mengurangi produksinya.
Beberapa jenis obat tetes mata untuk glaukoma adalah:

  • Alpha-adrenergic agonists. Obat ini berfungsi meningkatkan aliran aqueous humour dan mengurangi produksinya. Efek samping yang mungkin saja terjadi setelah menggunakan alpha-adrenergic agonists adalah pembengkakan, gatal, dan merah pada mata, badan terasa lelah, mulut kering, hipertensi, dan detak jantung tidak teratur. Beberapa contoh obat ini adalah brimonidine dan apraclonidine.
  • Beta-blockers. Obat ini bekerja dengan cara memperlambat produksi aqueous humour guna mengurangi tekanan intraokular pada mata. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi beta-blockers adalah mata terasa gatal, tersengat, atau panas. Mata juga bisa menjadi kering. Beberapa contoh obat ini adalah timolol, levobunolol hydrochloride, dan betaxolol hydrochloride..
  • Prostaglandin analogue. Obat ini mampu memperlancar pengaliran aqueous humour sehingga tekanan di dalam mata berkurang. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi prostaglandin analogue adalah sakit, bengkak, dan merah pada mata, mata menjadi sensitif terhadap cahaya, mata menjadi kering, menggelapnya warna mata, pembuluh darah pada bagian putih mata menjadi bengkak, serta sakit kepala. Beberapa contoh obat ini adalah travoprost, bimatoprost, latanoprost, dan tafluprost.
  • Carbonic anhydrase inhibitors. Obat ini bekerja dengan cara mengurangi produksi aqueous humour sehingga tekanan di dalam mata berkurang. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi carbonic anhydrase inhibitors adalah iritasi pada mata, mulut terasa pahit dan kering, serta mual. Beberapa contoh obat ini adalah dorzolamide dan brinzolamide.
  • Cholinergic agents atau miotic. Obat ini bekerja dengan cara meningkatkan pengaliran aqueous humour. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi cholinergic agents atau miotic adalah penglihatan menjadi buram dan pupil mengecil. Salah satu contoh obat ini adalah pilocarpine.
  • Sympathomimetics.  Obat ini mampu memperlancar pengaliran aqueous humour sekaligus mengurangi produksinya. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi sympathomimetics adalah nyeri dan merah pada mata. Salah satu contoh obat ini adalah brimonidine tartrate.

Obat tetes mata tidak boleh digunakan secara sembarangan tanpa resep atau petunjuk penggunaannya dari dokter karena dikhawatirkan bisa berbahaya. Contohnya adalah reaksi obat beta-blockers yang malah memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit jantung dan asma.

Obat-obatan glaukoma yang diminum
Untuk melengkapi kinerja obat tetes atau jika obat tetes terbukti kurang efektif, dokter kemungkinan akan meresepkan obat glaukoma yang diminum. Salah satu contohnya adalah carbonic anhydrase inhibitor. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi obat ini adalah:

  • Sakit perut
  • Jari tangan atau kaki kesemutan
  • Sering buang air kecil
  • Batu ginjal
  • Depresi

Terapi laser
Pada kasus glaukoma sudut tertutup, terapi laser ditujukan untuk membuka penyumbatan aqueous humour. Sedangkan pada kasus glaukoma sudut tertutup terapi laser ditujukan untuk memperlancar pengaliran cairan tersebut. Berdasarkan tekniknya, terapi laser dibagi menjadi tiga, yaitu:

  • Trabeculoplasty. Sumbatan di area trabecular meshwork dibuka menggunakan sinar laser.
  • Iridotomy. Aliran aqueous humour diperlancar dengan cara membuat lubang kecil pada iris menggunakan sinar laser.
  • Cyclodiode Laser Treatment. Produksi aqueous humour dibatasi dengan cara merusak sebagian kecil jaringan penghasil aqueous humour.

Prosedur operasi
Berikut ini adalah jenis-jenis operasi glaukoma jika diurutkan berdasarkan penerapannya secara umum:

  • Trabeculectomy. Ini merupakan jenis operasi glaukoma yang paling umum. Trabeculectomy bertujuan memperlancar aliran aqueous humour dengan cara membuang sebagian dari trabecular meshwork.
  • Aqueous shunt implant. Ini merupakan prosedur operasi yang bertujuan memperlancar aliran aqueous humour dengan cara memasang sebuah alat kecil menyerupai selang pada mata.
  • Viscocanalostomy. Melalui operasi ini dokter akan membuang sebagian lapisan luar berwarna putih yang menutupi bola mata (sclera) untuk meningkatkan pembuangan aqueous humour.
  • Sclerectomy dalam. Operasi ini dilakukan guna memperlebar trabecular meshwork melalui pemasangan alat untuk melebarkan trabecular meshwork.

Crohn's Disease



   
Crohn’s disease atau penyakit Crohn adalah salah satu penyakit radang usus kronis yang menyebabkan terjadinya peradangan pada seluruh lapisan dinding sistem pencernaan, mulai dari mulut hingga ke anus. Akan tetapi penyakit Crohn umumnya muncul pada bagian usus kecil tepatnya pada bagian ileum dan usus besar (kolon).
Kondisi ini bisa terasa menyakitkan, membuat tubuh merasa lemah, dan terkadang bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam nyawa penderitanya. Komplikasi yang terjadi umumnya adalah penyempitan ruang usus dan terbentuknya saluran (fistula) yang menghubungkan ujung usus dengan dengan permukaan kulit di dekat anus atau vagina.
Penderita penyakit Crohn memiliki masa remisi yaitu masa tidak timbul gejala apa pun atau hanya mengalami gejala-gejala ringan. Masa remisi ini akan diikuti masa kekambuhan dan terkadang menyulitkan penderitanya.

Gejala-gejala pada Crohn’s Disease
Gejala yang muncul pada penderita penyakit Crohn berbeda-beda, mulai dari ringan hingga yang sangat parah, dan dapat mengenai bagian mana saja pada sistem pencernaan tubuh penderitanya.
Berikut ini adalah gejala-gejala umum yang bisa muncul akibat penyakit Crohn:
  • Merasa sangat kelelahan.
  • Sakit perut dan kram yang terasa lebih parah setelah makan.
  • Diare yang muncul berkali-kali.
  • Tinja bercampur lendir dan darah.
  • Penurunan selera makan.
  • Penurunan berat badan yang ekstrem tanpa dikehendaki.

Beberapa gejala yang mungkin muncul pada penderita penyakit Crohn namun tidak selalu muncul adalah:
  • Demam diatas 38 o
  • Mual
  • Muntah
  • Nyeri dan pembengkakan sendi.
  • Peradangan dan iritasi pada mata (uveitis).
  • Muncul nyeri pada kulit yang menimbulkan kemerahan, seringkali pada kaki.
  • Sariawan

Peradangan yang terjadi pada sistem pencernaan anak-anak bisa menghambat penyerapan nutrisi dari makanan yang mereka konsumsi. Kasus penyakit Crohn yang terjadi pada anak-anak akan mengakibatkan pertumbuhan mereka lebih lambat daripada anak-anak yang sehat.
Berikut ini adalah beberapa kondisi dan gejala yang harus segera mendapatkan penanganan dari dokter, yaitu:
  • Munculnya darah yang bercampur dengan tinja.
  • Diare yang tidak kunjung sembuh.
  • Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas.
  • Sakit perut dan kram perut yang tidak sembuh.

Hal-hal yang Bisa Meningkatkan Risiko Munculnya Crohn’s Disease

Penyebab yang sebenarnya dari penyakit Crohn hingga kini masih belum diketahui. Meskipun begitu, terdapat sejumlah faktor risiko yang bisa dikaitkan dengan penyakit ini, yaitu:
  • Keturunan. Terdapat bukti bahwa penyakit Crohn merupakan penyakit keturunan dalam keluarga. Terlebih lagi, penyakit Crohn cenderung terjadi hanya di beberapa etnis bangsa. Hal tersebut turut membuktikan bahwa penyakit ini merupakan kondisi yang diwariskan turun-temurun.
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh. Gangguan dalam sistem kekebalan tubuh menyebabkan sel-sel imun yang seharusnya melindungi usus dari bakteri berbahaya yang masuk ke sistem pencernaan, juga menyerang bakteri baik (probiotik) yang membantu dalam proses pencernaan. Keadaan ini menimbulkan peradangan pada saluran cerna yang berkaitan dengan penyakit Crohn.
  • Merokok. Orang yang merokok memiliki risiko dua kali lipat untuk terkena penyakit Crohn dibandingkan orang yang tidak merokok. Gejala penyakit Crohn pada orang yang merokok biasanya lebih parah dan cenderung membutuhkan operasi untuk penanganannya.
  • Riwayat Infeksi.  Infeksi yang terjadi pada masa kanak-kanak bisa mengakibatkan munculnya reaksi abnormal dari sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini pada akhirnya dapat memicu munculnya gejala-gejala dari penyakit Crohn.

Langkah-langkah dalam Mendiagnosis Crohn’s Disease
Berikut ini adalah beberapa jenis pemeriksaan yang mungkin akan dilakukan oleh dokter, baik untuk mendiagnosis penyakit Crohn secara langsung, ataupun untuk mengeliminasi sejumlah kondisi yang juga menimbulkan gejala serupa dengan penyakit Crohn.
  • Pemeriksaan awal. Dokter akan menanyakan tentang pola gejala yang dialami oleh pasien. Selain itu, dokter akan memeriksa apakah terdapat penyebab tertentu terhadap gejala tersebut. Misalnya makanan, riwayat penggunaan obat-obatan, riwayat kesehatan keluarga, serta perjalanan yang baru dilakukan yang dapat menyebabkan gejala diare. Pemeriksaan denyut nadi, suhu tubuh, tekanan darah, dan pemeriksaan perut juga akan dilakukan oleh dokter untuk memeriksa kesehatan pasien secara umum.
  • Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat peradangan yang terjadi di dalam tubuh pasien. Selain itu, dengan pemeriksaan darah, dokter akan mengetahui jika terjadi infeksi. Jika dari hasil pemeriksaan darah didapatkan tanda anemia, maka bisa jadi pasien mengalami malnutrisi atau perdarahan di dalam saluran pencernaan.
  • Pemeriksaan tinja. Sampel tinja akan diperiksa apakah terdapat kandungan darah dan lendir. Dari prosedur ini, dokter bisa mengetahui apakah gejala yang pasien alami disebabkan oleh parasit cacing gelang atau kondisi lainnya.
  • Kolonoskopi. Ini adalah prosedur yang dilakukan untuk memeriksa bagian dalam dari usus besar. Prosedur ini dilakukan dengan cara memasukkan selang fleksibel yang dilengkapi kamera dan lampu ke dalam usus besar melalui anus dan rektum (bagian akhir dari saluran cerna). Dokter bisa melihat tingkat keparahan dan luasnya peradangan yang terjadi di dalam usus besar. Pada prosedur ini dapat juga dilakukan biopsi (pengambilan sampel jaringan) di dalam saluran pencernaan, untuk kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Pemeriksaan tersebut berguna untuk melihat perubahan sel-sel dinding saluran cerna secara mikroskopis, yang merupakan ciri khas penyakit Crohn.
  • Kapsul endoskopi nirkabel. Dalam prosedur pemeriksaan ini, pasien diharuskan menelan kapsul yang akan masuk ke dalam usus kecil. Kapsul akan mengirimkan gambar ke alat perekam. Setelah beberapa hari, kapsul akan keluar dari tubuh melalui kotoran. Ini adalah kapsul sekali pakai.Tidak semua rumah sakit memiliki prosedur yang masih sangat baru ini.
  • CTE (computerised tomography enterography/enteroclysis) dan MRE (computerised tomography enterography/enteroclysis). Kedua metode pemindaian ini dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit Crohn pada usus halus. Pada pemeriksaan, pasien akan diminta untuk meminum cairan kontras (enterografi). Cairan kontras juga dapat dimasukkan ke dalam selang yang kemudian dimasukkan melalui hidung dan mencapai usus halus (enterosiklis). Setelah pasien diberikan cairan kontras, usus halus kemudian dipindai menggunakan metode resonansi magnetik (MRE) atau menggunakan sinar X (CTE).


Mengobati Crohn’s Disease
Pengobatan yang dilakukan pada penyakit Crohn hanya bertujuan untuk meringankan gejala yang dialami serta mempertahankan masa remisi. Hingga saat ini, belum ada penanganan atau obat yang bisa menyembuhkan penyakit Crohn sepenuhnya. Pada penderita anak-anak, pengobatan penyakit Crohn juga bertujuan untuk meningkatkan tumbuh-kembang anak.
Berikut ini adalah beberapa pengobatan yang dilakukan untuk meringankan gejala yang muncul, yaitu:
  • Obat Antiinflamasi. Obat antiinflamasi seringkali digunakan sebagai pengobatan pertama yang diberikan kepada penderita penyakit Crohn. Beberapa jenis obat antiinflamasi tersebut meliputi:
  • 5-Aminosalisilat oral. Obat jenis ini diberikan kepada penderita penyakit Crohn pada usus besar namun tidak dapat mengobati penyakit Crohn pada usus kecil. Contoh obat ini adalah sulfasalazine dan mesalamine.
  • Kortikosteroid. Kortikosteroid diberikan jika penderita tidak merespons berbagai pengobatan yang diberikan untuk mengatasi penyakit Crohn. Kortikosteroid dapat menurunkan reaksi peradangan di berbagai bagian tubuh. Namun perlu diingat bahwa kortikosteroid memiliki berbagai efek samping seperti pembengkakan wajah, diabetes, hipertensi, keringat malam, insomnia, dan hiperaktivitas. Kortikosteroid tidak disarankan untuk digunakan pada pengobatan jangka panjang. Waktu pemberian maksimum kortikosteroid pada penderita penyakt Crohn adalah 3-4 bulan.
  • Imunosupresan. Dalam mengobati penyakit Crohn, imunosupresan bekerja dengan cara menekan kerja sistem imun sehingga reaksi peradangan pada saluran pencernaan dapat diredakan. Obat golongan imunosupresan akan bekerja dengan optimal jika dikombinasikan dengan beberapa jenis imunosupresan lainnya. Beberapa kombinasi obat imunosupresan untuk penderita penyakit Crohn adalah:
  • Azathioprine dan mercatopurine. Kombinasi kedua obat ini merupakan yang paling sering digunakan untuk mengatasi peradangan saluran pencernaan. Perlu dilakukan pemantauan rutin dari dokter terhadap pasien terkait efek samping kedua obat tersebut selama konsumsi obat.
  • Infliximab, adalimumab, dan certolizumab pegol. Ketiga obat ini digunakan sebagai peghambat tumor necrosis factor (TNF) yang diduga menjadi penyebab utama penyakit Crohn. Obat-obatan ini dapat digunakan untuk orang dewasa dan anak-anak yang menderita penyakit Crohn sedang dan berat. Obat-obatan tersebut dapat digunakan langsung untuk penderita setelah diagnosis mengonfirmasi adanya penyakit Crohn pada penderita, terutama jika penderita mengalami fistula. Penderita yang mengalami infeksi TBC tidak boleh mengonsumsi ketiga obat tersebut.
  • Methotraxate. Methotraxate merupakan alternatif apabila imunosupresan, apabila obat lain tidak dapat digunakan. Efek samping dari obat ini antara lain adalah mual, lelah, diare dan pneumonia. Obat ini dapat menyebabkan kecacatan pada janin. Untuk itu, baik wanita maupun pasangannya harus menghentikan penggunaan obat ini minimal 6 minggu sebelum merencanakan kehamilan.
  • Cyclosporine dan tacrolimus. Kedua obat ini dapat digunakan untuk mengatasi fistula yang disebabkan oleh penyakit Crohn. Efek samping dari cyclosporine cukup berbahaya sehingga tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang.
  • Natalizumab dan vedolizumab. Dalam mengobati penyakit Crohn, kedua obat ini bekerja dengan cara menghentikan respons sel imun terhadap integrin. Dengan pemberian natalizumab dan vedolizumab, sel-sel imun dapat dicegah dari menempel pada dinding usus sehingga mengurangi inflamasi. Perlu diperhatikan bahwa natalizumab dan vedolizumab hanya digunakan pada penyakit Crohn berat yang tidak dapat diatasi dengan obat lain.
  • Antibiotik. Antibiotik dapat mengurangi pengeluaran cairan pada fistula serta mengobati abses yang diakibatkan oleh penyakit Crohn. Antibiotik juga diperkirakan dapat membentu meringankan penyakit Crohn dengan cara mengurangi populasi bakteri jahat yang merangsang respons sistem imun pada usus. Perlu diingat bahwa tujuan pemberian antibiotik adalah untuk mencegah terjadinya infeksi pada penderita penyakit Crohn jika dirasa penderita memiliki risiko tersebut. Dua jenis antibiotik yang umumnya digunakan pada penderita penyakit Crohn adalah metrodinazole dan ciprofloxacin.



Untuk meringankan gejala penyakit Crohn dan menurunkan risiko komplikasi akibat penyakit tersebut, dokter juga dapat merekomendasikan beberapa obat seperti:
  • Antidiare, misalnya psyllium atau metilselulosa. Untuk diare yang lebih berat dapat diberikan loperamide.
  • Penghilang rasa sakit. Untuk nyeri ringan, dokter biasanya akan menyarankan paracetamol. Sedangkan ibuprofen dan sodium naproxen tidak diperbolehkan karena dapat memperparah gejala penyakit Crohn.
  • Suplemen zat besi dan vitamin B12. kedua suplemen tersebut dapat mengurangi munculnya anemia akibat penyerapan zat besi dan vitamin B12 yang tidak baik akibat penyakit Crohn.
  • Suplemen vitamin D dan kalsium, untuk menurunkan risiko osteoporosis.

Masa remisi bisa dijalani dengan mengonsumsi obat-obatan tertentu maupun tidak. Jika pasien memilih untuk tetap mengkonsumsi obat, kortikosteroid tidak dianjurkan digunakan pada masa remisi.
Beberapa makanan diduga bisa meningkatkan gejala yang dialami oleh penderita penyakit Crohn, meski hingga saat ini tidak ada bukti yang jelas tentang kaitan makanan dengan penyakit ini.
Jika ada makanan yang diduga memperburuk gejala yang dialami, pasien diharuskan untuk menghindari makanan tersebut. Tapi tidak disarankan untuk menghilangkan sepenuhnya jenis makanan dengan nutrisi tertentu, misalnya biji-bijian atau makan yang mengandung gula.
Bagi orang yang merokok, berhenti dari kebiasaan buruk tersebut akan meringankan gejala yang dialami dan membantu menjaga kondisi tetap berada di masa remisi.

Komplikasi Akibat Crohn’s Disease
Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat penyakit Crohn, di antaranya:
  • Fistula. Fistula adalah saluran yang terbentuk dari tukak pada dinding saluran pencernaaan, yang menembus bagian lain dari saluran cerna atau bahkan menembus kandung kemih, vagina, anus, atau kulit. Akibatnya dapat menimbulkan nyeri konstan, demam, kotoran yang mengandung darah atau nanah, bahkan kebocoran kotoran di pakaian dalam.
  • Penyumbatan saluran pencernaan. Penyakit Crohn dapat mempertebal dinding usus halus dan memicu penyumbatan aliran makanan. Untuk menghilangkan komplikasi ini dapat dilakukan pembedahan.
  • Ulkus. Peradangan kronis pada usus dapat menimbulkan ulkus atau tukak di berbagai organ pencernaan, termasuk di mulut, usus, anus, dan juga organ genital.
  • Malnutrisi. Diare, nyeri perut, serta kram perut dapat menyebabkan penderita mengalami kesulitan makan dan mencerna makanan. Kondisi ini dapat mengganggu penyerapan nutrisi sehingga menyebabkan penderita kekurangan nutrisi.
  • Osteoporosis. Ini merupakan kondisi ketika kualitas kepadatan tulang menurun akibat usus yang tidak dapat menyerap nutrisi makanan dengan baik. Selain itu, kondisi ini juga berisiko terjadi akibat pemakaian obat-obatan kortikosteroid.
  • Anemia defisiensi besi. Perdarahan yang terjadi di saluran pencernaan akibat penyakit Crohn bisa mengakibatkan terjadinya anemia defisiensi besi. Gejalanya bisa berupa kelelahan, sesak napas, dan wajah
  • Anemi defisiensi vitamin B12 atau folat. Penderita yang mengalami komplikasi ini akan tampak lelah dan kurang berenergi. Gagalnya penyerapan vitamin dan mineral oleh tubuh juga bisa memicu terjadinya mala
  • Kanker Usus. Penyakit Crohn yang menyerang usus besar akan meningkatkan risiko kanker usus besar.

Polip Usus



 
Polip usus adalah kumpulan sel berbentuk benjolan kecil yang tumbuh pada usus besar (kolon). Polip usus dapat muncul di bagian usus besar manapun. Kebanyakan polip usus tidak berbahaya, namun memiliki risiko untuk berkembang menjadi kanker usus besar yang dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani.
Polip usus ini dapat dialami oleh semua orang dalam berbagai usia. Namun mereka yang berusia di atas 50 tahun, merokok, kelebihan berat badan, serta memiliki keluarga dengan riwayat polip usus atau kanker usus besar berisiko lebih tinggi menderita polip usus.
Ada beberapa jenis polip usus, di antaranya adalah:

  • Polip adenomatosa. Sebagian besar polip usus merupakan polip ademantosa. Meskipun hanya sedikit di antaranya yang berkembang menjadi kanker, namun hampir semua polip ganas yang berhasil diidentifikasi merupakan polip adenomatosa. Ukuran polip memengaruhi risiko berkembangnya polip usus menjadi kanker usus besar. Hanya sekitar 1 persen dari polip usus berukuran kurang dari 1 cm yang berkembang menjadi kanker usus besar. Sedangkan pada polip usus yang berukuran lebih dari 2 cm, 50 persen kasus berkembang menjadi kanker usus besar.
  • Polip serata. Yang termasuk jenis ini adalah polip hiperplastik dan polip sessile. Polip hiperplastik seringkali tumbuh pada kolon bagian bawah, berukuran kecil, dan jarang berkembang menjadi kanker. Sedangkan polip sessile kebanyakan tumbuh di bagian atas usus besar dan berbentuk datar, sehingga seringkali sulit terdeteksi. Polip jenis inilah yang paling berpotensi untuk berkembang menjadi kanker.
  • Polip inflamasi. Polip jenis ini muncul menyertai penyakit kolitis ulserativa atau penyakit Crohn. Polip ini tidak berbahaya, namun kolitis ulserativa dan penyakit Crohn yang mendahului timbulnya polip jenis ini dapat meningkatkan risiko kanker usus besar.

Pemeriksaan skrining rutin terutama pada kelompok orang yang berisiko dapat mendeteksi polip usus sebelum berkembang menjadi kanker usus besar. Dengan skrining rutin, kanker usus besar juga dapat terdeteksi sejak stadium awal, sehingga tingkat keberhasilan pengobatan dan tingkat kesembuhannya tinggi.

Gejala Polip Usus
Umumnya polip usus tidak menimbulkan gejala. Namun pada beberapa kasus, pasien mengeluh adanya:

  • Berdarah saat buang air besar. Merupakan gejala paling umum, namun tidak spesifik untuk polip usus. Kondisi lain seperti ambeien (hemorrhoid) dan kanker usus besar dapat menyebabkan gejala yang sama.
  • Berubahnya jadwal buang air besar. Menderita konstipasi atau diare selama seminggu atau lebih mungkin menandakan adanya polip usus berukuran besar. Namun banyak juga kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa.
  • Warna tinja berubah, karena bercampur dengan darah. Namun perubahan warna tinja ini juga bisa karena sebab lain, seperti obat-obatan tertentu, makanan, dan suplemen.
  • Nyeri, mual, atau muntah. Polip berukuran besar dapat menyumbat sebagian usus, sehingga penderita akan mengalami mual, muntah, atau nyeri kram perut.
  • Anemia defisiensi besi. Zat besi dibutuhkan tubuh untuk membentuk hemoglobin dalam darah, sehingga darah dapat mengikat oksigen untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Perdarahan kronis akibat polip usus akan menyebabkan zat besi dalam tubuh banyak terpakai untuk pembentukan darah baru terus menerus.


Penyebab dan Faktor Risiko Polip Usus
Mutasi genetik dapat menyebabkan sel membelah diri secara abnormal. Pada usus besar, pertumbuhan sel tidak normal inilah yang menjadi penyebab terbentuknya polip usus. Semakin aktif pertumbuhan sel dan semakin besar ukuran polip, maka semakin besar pula risikonya menjadi ganas.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya polip usus dan kanker usus besar yaitu:

  • Usia. Kebanyakan penderita polip usus berusia 50 tahun atau lebih tua.
  • Faktor keturunan. Risiko terkena polip usus lebih besar jika salah satu anggota keluarga mengidap polip atau kanker usus besar.
  • Menderita radang pencernaan, seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn.
  • Menderita diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol.
  • Obesitas dan kurang berolahraga.
  • Merokok dan mengonsumsi minuman keras.

Beberapa kelainan genetik juga dapat meningkatkan risiko timbulnya polip usus, antara lain:

  • Familial adenomatous polyposis (FAP). Merupakan penyakit langka, dimana ratusan bahkan ribuan polip tumbuh pada usus besar. Penyakit ini biasanya mulai muncul di usia remaja, dan hampir pasti akan berkembang menjadi kanker kolon apabila tidak segera ditangani.
  • Sindrom Gardner. Merupakan salah satu varian FAP, dimana polip tumbuh di sepanjang usus halus dan usus besar. Pada penyakit ini, dapat ditemukan juga tumor jinak di bagian tubuh lain seperti kulit, tulang, dan perut.
  • Serrated Polyposis Syndrome. Kelainan ini memicu munculnya polip adenomatosa serata multipel di kolon bagian atas.
  • MYH-Associated Polyposis (MAP). Kondisi ini serupa dengan FAP, dan disebabkan oleh mutasi pada gen MYH.
  • Sindrom Peutz-Jeghers. Kondisi yang ditandai dengan munculnya bercak-bercak kecokelatan (freckles) di sekujur tubuh, termasuk pada bibir, gusi, dan kaki, kemudian terbentuk polip-polip pada usus.
  •  Sindrom Lynch. Disebut juga kanker kolorektal non-polip yang bersifat keturunan (herediter). Jumlah polip pada kelainan ini relatif lebih sedikit, namun cepat sekali berkembang menjadi ganas.

Diagnosis Polip Usus
Pemeriksaan skrining rutin dapat mendeteksi polip usus secara dini sebelum berkembang menjadi kanker, selain juga dapat mendeteksi kanker usus besar pada stadium awal. Pemeriksaan skrining yang biasa dilakukan adalah:
  • Kolonoskopi. Adalah pengujian dimana dokter akan memasukkan alat untuk mengamati lapisan dalam usus pasien. Jika ditemukan polip, maka dokter akan segera mengangkat atau mengambil sampel untuk diteliti lebih lanjut.
  • Kolonoskopi virtual. Dokter akan menggunakan hasil pencitraan CT scan untuk melihat gambaran usus. Apabila ditemukan polip, maka dilakukan proses pengangkatan melalui kolonoskopi.
  • Sigmodoiskopi fleksibel. Tujuan pengujian ini adalah untuk memeriksa dinding dalam rektum dan sepertiga bawah dari usus besar pasien. Apabila ditemukan adanya polip, maka proses pengangkatan akan dilakukan melalui kolonoskopi.
  • Uji feses. Ada dua jenis pengujian feses yang bisa dilakukan, FIT (fecal immunochemical test) dan FOBT (fecal occult blood test). Keduanya bertujuan untuk menemukan kandungan darah dalam feses, dan bukan merupakan tes yang spesifik.


Pengobatan dan Pencegahan Polip Usus
Jika ditemukan polip usus saat pemeriksaan, dokter akan melakukan pengangkatan polip. Beberapa adalah:

  • Pengangkatan saat skrining. Sebagian besar polip dapat diangkat ketika pasien menjalani pemeriksaan skrining. Pengangkatan ini dilakukan dengan melalui kolonoskopi.
  • Pembedahan invasif minimal. Tindakan ini akan dilakukan jika ukuran polip terlalu besar, sehingga tidak mungkin diangkat melalui kolonoskopi.
  • Pengangkatan rektum dan usus besar, akan dilakukan pada pasien dengan kelainan genetik seperti FAP. Prosedur ini disebut dengan proktokolektomi total.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah munculnya polip usus, yaitu:

  • Skrining rutin untuk kelompok yang berisiko tinggi. Apabila ada riwayat polip usus atau kanker usus besar di keluarga, atau memiliki kelainan genetik yang merupakan faktor risiko, pemeriksaan skrining rutin dianjurkan sejak menginjak usia dewasa.
  • Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran.
  • Mengurangi konsumsi makanan berlemak.
  • Tidak merokok dan mengonsumsi minuman keras.
  • Menjaga berat badan dan berusaha selalu aktif secara fisik.
  • Mengonsumsi aspirin sesuai anjuran dokter. Mengonsumsi aspirin dapat mengurangi risiko terjadinya polip usus, namun dapat meningkatkan risiko perdarahan saluran cerna. Oleh sebab itu, penggunaan aspirin harus dalam pengawasan dokter.
  • Menigkatkan konsumsi kalsium. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan konsumsi kalsium akan membantu mencegah kambuhnya polip usus. Namun masih belum dapat dipastikan apakah kalsium mampu mencegah terjadinya kanker usus besar.

Penyakit Hirschsprung



   
Penyakit hirschsprung adalah kelainan yang terjadi pada usus besar (kolon). Penyakit ini biasanya muncul sebagai kondisi bawaan pada bayi yang baru lahir. Bayi yang menderita penyakit Hirschsprung seringkali kesulitan buang air besar karena gangguan pada sel saraf yang berfungsi mengendalikan pergerakan usus.
Pada kondisi normal, usus akan bergerak secara terus-menerus untuk mendorong feses (kotoran sisa makanan) ke arah anus. Pada penderita penyakit Hirschsprung, saraf yang bertugas mengendalikan pergerakan ini tidak berfungsi, sehingga menyebabkan feses terperangkap di usus. Gangguan pada saraf ini bisa menimbulkan masalah seperti konstipasi, infeksi, pembengkakan di perut, dan masalah usus lainnya.
Pada kasus penyakit Hirschsprung yang tergolong ringan, kondisi mungkin tidak akan terdeteksi sampai sang bayi memasuki masa kanak-kanak. Kasus ini juga mungkin dialami oleh orang dewasa, namun sangat jarang terjadi. Para penderita penyakit Hirschsprung seringkali harus menempuh prosedur operasi untuk menyembuhkan penyakit ini.

Penyebab Penyakit Hirschsprung
Penyakit Hirschsprung terjadi ketika sel saraf di usus besar tidak terbentuk secara sempurna. Sel-sel ini berfungsi mengendalikan kontraksi yang menggerakan feses melalui usus. Tanpa adanya kontraksi tersebut, feses akan terperangkap di usus besar. Penyebab kerusakan sel saraf ini masih belum jelas sampai saat ini. Pada beberapa kasus, penyakit ini terjadi karena faktor keturunan atau disebabkan oleh mutasi genetik.
Menurut hasil penelitian, bayi laki-laki memiliki risiko mengalami penyakit Hirschsprung yang lebih besar dibanding bayi perempuan. Selain itu, jika seseorang pernah memiliki anak biologis yang mengalami penyakit Hirschsprung, anak-anak yang dilahirkan setelahnya juga berisiko mengidap kondisi sama. Pasalnya, penyakit Hirschsprung memang sangat berkaitan dengan faktor keturunan dan kelainan bawaan.
Bayi yang mengalami penyakit Hirschsprung berpotensi mengalami komplikasi berupa infeksi usus parah yang disebut enterokolitis. Kondisi tersebut bisa mengancam nyawa dan penderitanya harus cepat mendapat penanganan medis. Penderita biasanya harus menjalani prosedur pembersihan kolon dan menggunakan obat antibiotik yang diresepkan oleh dokter.

Gejala Penyakit Hirschsprung
Gejala penyakit Hirschsprung sangat beragam, tergantung pada tingkat keparahannya. Umumnya, gejala-gejala kondisi ini bisa langsung terdeteksi sekitar dua hari pertama setelah bayi lahir. Gejala-gejalanya meliputi:

  • Perut bengkak.
  • Muntah-muntah, mengeluarkan cairan berwarna hijau atau cokelat.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Sembelit atau susah buang air besar, sehingga membuat bayi menjadi rewel.
  • Diare
Penyakit Hirschsprung juga bisa terdeteksi saat bayi memasuki masa kanak-kanak. Gejala-gejala penyakit Hirschsprung pada anak-anak terdiri dari:
  • Perut bengkak.
  • Sembelit kronis.
  • Perut kembung.
  • Perkembangan terganggu.
  • Sering merasa kelelahan.


Diagnosis Penyakit Hirschsprung
Untuk mendiagnosis penyakit Hirschsprung, dokter biasanya akan mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai siklus buang air pasien terlebih dahulu. Selanjutnya, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan yang terdiri dari:

  • Abdominal X-ray dengan cairan kontras. Perut pasien akan diperiksa dengan metode radiologi kontras, yaitu dengan memasukkan barium atau cairan kontras lain ke dalam usus dengan tabung khusus melalui rektum/anus. Barium itu akan memenuhi lapisan usus, lalu menciptakan siluet dari usus besar dan rektum. X-ray akan menunjukkan perbedaan antara bagian yang sempit dan bagian yang melebar.
  • Mengukur kinerja otot di sekitar rektum. Tes manometri akan dilakukan untuk mengetahui kondisi pasien anak-anak atau dewasa. Dalam menjalankan tes ini, dokter akan meniupkan balon di dalam rektum. Jika otot-otot di sekeliling rektum tidak rileks, maka pasien tersebut positif mengalami penyakit Hirschsprung.
  • Mengambil sampel dari jaringan usus/biopsi. Tes ini merupakan metode paling akurat untuk mengidentifikasi penyakit Hirschsprung. Sampel biopsi dikumpulkan lalu diperiksa dengan mikroskop untuk melihat sel-sel saraf yang bermasalah.


Pengobatan Penyakit Hirschsprung
Untuk menyembuhkan penyakit Hirschsprung, dokter akan melakukan operasi kepada pasien. Operasi itu dilakukan untuk memotong bagian dari usus besar yang tidak memiliki sel-sel saraf. Lapisan usus besar yang bermasalah diangkat, lalu bagian usus besar yang normal ditarik dari dalam dan disambungkan langsung ke anus. Hal ini biasanya dilakukan dengan operasi laparoskopi atau bedah minimal invasif melalui anus.
Sebelum menjalani operasi, pasien tidak diperbolehkan mendapat ASI dan mengonsumsi makanan. Sebagai gantinya, asupan makanan dan minuman disalurkan melalui infus. Selain itu, isi perut pasien juga akan dikeluarkan dan dibersihkan dari segala bentuk zat, baik cair, gas, maupun padat, untuk memperlancar operasi.
Anak-anak yang mengalami penyakit Hirschsprung dengan tingkat keparahan yang tinggi akan menjalani dua tahap operasi. Awalnya, bagian usus besar yang bermasalah dibuang, kemudian feses dikeluarkan dari dalam tubuh melalui lubang buatan pada permukaan perut yang biasa disebut stoma. Proses pembuatan lubang di bagian perut itu disebut dengan ostomy. Setelah itu, stoma dilepas, dan usus akan disambungkan langsung ke rektum/anus.
Ada dua tahap yang harus dilakukan dalam ostomy, yaitu ileostomy dan colostomy. Ileostomy adalah prosedur operasi dimana dokter membuang seluruh usus besar dan menghubungkan usus kecil dengan stoma. Feses keluar dari tubuh melalui stoma. Sedangkan colostomy adalah prosedur dimana dokter akan membuat stoma pada ujung usus besar. Feses keluar dari tubuh melalu ujung usus besar.
Setelah semua rangkaian selesai, terakhir dokter akan menutup lubang buatan tempat pemasangan stoma, dan menghubungkan bagian usus yang sehat ke rektum atau anus. Setelah operasi, perlahan-lahan pasien bisa buang air secara normal. Sebagian dari mereka mungkin akan mengalami diare selama beberapa hari setelah operasi.

Pemulihan setelah operasi
Setelah menjalani operasi, pasien perlu beberapa hari untuk menjalani pemulihan di rumah sakit. Dokter akan meresepkan obat penghilang rasa sakit dan mendapat asupan makanan lewat infus sampai kondisinya membaik. Selama pemulihan, pasien disarankan untuk mengonsumsi banyak cairan.
Meskipun operasi berjalanan dengan lancar, pasien tidak bisa langsung sembuh sepenuhnya karena mereka membutuhkan waktu untuk belajar menggerakkan otot usus agar feses bisa keluar dari tubuh. Operasi ini bisa menimbulkan dampak jangka panjang seperti infeksi, sembelit, perut membengkak, atau kebocoran feses.
Selama setahun setelah operasi, pasien harus tetap dalam pengawasan karena mereka memiliki risiko yang cukup besar terhadap penyakit enterokolistis. Enterokolistis ditandai dengan adanya pendarahan di rektum, diare, demam, pembengkakan perut, dan muntah-muntah. Jika mendapati gejala-gejala tersebut, segera hubungi dokter.

Divertikulitis



   
Divertikulitis adalah kondisi di mana kantung pada kolon (usus besar) mengalami peradangan atau infeksi. Terbentuknya kantung atau benjolan kecil pada dinding usus sendiri sudah merupakan kelainan yang biasa dinamakan divertikula.
Pembentukan divertikula yang terjadi pada dinding kolon dikenal dengan nama divertikulosis. Sampai saat ini, belum diketahui apa penyebab utama divertikulosis. Tapi para ahli menduga bahwa diet rendah serat menjadi pemicunya.
Divertikula umumnya diidap oleh seseorang yang berusia 40 tahun ke atas, karena usus besar mereka sudah melemah. Divertikula lebih sering terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika Utara daripada di Asia dan Afrika. Pria dan wanita memiliki risiko yang sama untuk terkena divertikulosis.

Gejala Divertikulitis
Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita. Divertikulitis memiliki beberapa gejala yang bisa bertahan dari beberapa jam hingga beberapa hari. Gejala-gejala divertikulitis adalah:

  • Rasa nyeri, sensitif, atau kram pada bagian perut, umumnya kiri bawah perut dan lebih terasa bila tubuh digerakkan.
  • Demam menggigil.
  • Sensasi kembung atau perut terasa dipenuhi gas.
  • Diare atau sembelit.
  • Mual dan kadang muntah.
  • Kehilangan nafsu makan.


Penyebab dan Faktor Risiko Divertikulitis
Divertikulitis masih belum diketahui penyebab pastinya. Ada dugaan berkembangnya bakteri pada kantung di dinding usus (divertikula), bisa memicu peradangan atau infeksi.
Diet rendah serat diduga menjadi penyebab terbentuknya divertikula karena tanpa serat, kolon harus bekerja lebih keras untuk mendorong makanan. Tekanan kolon saat mendorong makanan bisa menyebabkan terbentuknya kantung pada titik lemah sepanjang dinding kolon.
Beberapa hal yang meningkatkan risiko seseorang terkena divertikulitis adalah:

  • Faktor genetik. Ada anggota keluarga yang mengidap divertikulosis.
  • Usia. Semakin tua seseorang, risiko terkena divertikulitis juga semakin tinggi.
  • Obat-obatan. Sedang mengonsumsi obat anti peradangan non steroid atau aspirin akan meningkatkan risiko terkena divertikulitis.
  • Obesitas.
  • Diet. Sedang menjalani diet rendah serat dan tinggi lemak hewani.
  • Merokok.
  • Kurang olahraga.


Diagnosis Divertikulitis

  • Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda yang dialami oleh pasien. Pengujian yang biasanya dilakukan dokter untuk mendiagnosis divertikulitis adalah:
  • Pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa bagian perut penderita untuk letak radang di dalam rongga perut yang biasanya sakit saat perut ditekan.
  • Uji darah, untuk mengetahui apakah terjadi infeksi atau perdarahan di kolon penderita.
  • Uji kehamilan, untuk memastikan bahwa sakit perut yang dialami penderita bukan disebabkan oleh kehamilan.
  • Uji analisis urine, akan menunjukkan apakah penderita mengalami infeksi saluran kemih.
  • Uji pencitraan. Penderita akan menjalani prosedur pencitraan sinar-X atau CT scan pada bagian perut.
  • Uji fungsi liver, untuk menguji apakah penderita mengalami gangguan liver.
  • Pemeriksaan dubur digital, untuk melihat apakah ada benjolan di panggul bagian bawah.
  • Sigmodoskopi atau kolonoskopi, akan disarankan dokter jika gejala-gejala condong pada perdarahan dari usus penderita.
  • Tes darah samar pada sampel tinja. Untuk memeriksa apakah tampak ada darah pada tinja penderita.

Pengobatan Divertikulitis
Cara penanganan divertikulitis biasanya tergantung dari tingkat keparahan divertikulitis yang diidap penderita. Untuk divertikulitis ringan, penderita hanya akan diresepkan obat antibiotik, obat pereda rasa sakit, serta diet tinggi cairan tapi rendah serat. Langkah ini dilakukan hingga rasa nyeri hilang.
Jika yang diidap penderita adalah divertikulitis akut atau sudah berkomplikasi,  maka penderita perlu rawat inap di rumah sakit. Beberapa jenis penanganan bagi penderita divertikulitis akut adalah:

  • Antibiotik intravena, biasanya diberikan untuk menangani infeksi yang menyebabkan rasa nyeri.
  • Menyedot isi usus agar perut tetap kosong, jika penderita mengalami muntah atau pembengkakan perut.
  • Pembedahan untuk mengangkat bagian usus yang terinfeksi. Dilakukan jika terjadi komplikasi, mengalami divertikulitis kambuhan, ada gangguan sistem kekebalan tubuh penderita.
  • Mengistirahatkan usus, untuk mengatasi kolon yang tersumbat. Caranya dengan tidak memberikan apa pun kecuali cairan dan nutrisi lewat infus kepada penderita.

Komplikasi dan Pencegahan Divertikulitis
Ada beberapa komplikasi yang bisa dialami para penderita divertikulitis akut yaitu:

  • Peritonitis, yang bisa muncul karena pecahnya kantung usus yang terinfeksi dan menumpahkan isinya ke rongga perut.
  • Munculnya abses pada rongga usus ketika nanah mengumpul di dalam kantung usus (divertikula).
  • Tersumbatnya pada usus besar atau usus kecil, karena munculnya jaringan parut.
  • Munculnya saluran tidak normal (fistula) antar bagian dari usus atau antara usus dengan kandung kemih.
  • Gangguan buang air kecil. Divertikulitis menyebabkan meradangnya bagian usus yang bersentuhan dengan kandung kemih. Hal ini menimbulkan rasa nyeri saat buang air kecil, frekuensi buang air kecil lebih sering, dan masuknya udara dalam urine.

Sedangkan untuk mencegah divertikulitis, seseorang bisa melakukan beberapa hal berikut:

  • Mengonsumsi banyak cairan.
  • Perbanyak konsumsi makanan berserat tinggi namun rendah lemak atau mengonsumsi daging merah.
  • Olahraga dengan rutin.

Penyakit Celiac



   
Penyakit celiac adalah kondisi di mana pencernaan seseorang mengalami reaksi negatif saat mengonsumsi gluten. Gluten sendiri adalah protein yang bisa ditemukan pada beberapa jenis sereal seperti gandum, jelai (barley), dan gandum hitam. Beberapa makanan yang mengandung sereal tersebut adalah pasta, keik, sereal sarapan, saus atau kecap tertentu, sebagian besar roti, dan beberapa jenis makanan siap saji.
Celiac bukanlah alergi atau intoleransi tubuh terhadap gluten. Penyakit ini merupakan kondisi autoimun di mana tubuh salah mengenali senyawa yang terkandung di dalam gluten sebagai ancaman bagi tubuh. Maka sistem kekebalan tubuh menyerangnya dan mengenai jaringan tubuh yang sehat.
Jika sistem kekebalan tubuh terus-menerus menyerang jaringan tubuh yang sehat, maka bisa menimbulkan peradangan yang merusak dinding usus. Dan pada akhirnya mengganggu proses penyerapan nutrisi dari makanan.

Gejala Penyakit Celiac
Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita. Gejala paling umum yang dirasakan penderita penyakit celiac adalah diare. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan sistem pencernaan menyerap nutrisi dari makanan secara sempurna (malabsorpsi).
Ketidakampuan tubuh menyerap nutrisi membuat tinja mengandung tingkat lemak yang tinggi. Kotoran yang dikeluarkan penderita penyakit celiac akan berbau tidak sedap, berminyak, dan berbusa. Gejala lain yang biasa dirasakan penderita penyakit celiac adalah:

  • Nyeri pada perut.
  • Perut kembung.
  • Perubahan frekuensi buang air besar, serta perubahan warna dan bentuk kotoran.
  • Turunnya berat badan.
  • Kelelahan
  • Kesemutan dan mati rasa pada ujung jari tangan dan kaki, akibat rusaknya sistem saraf.
  • Muntah
  • Pembengkakan pada tangan, telapak kaki, lengan serta tungkai kaki, yang disebabkan menumpuknya cairan di jaringan tubuh.
  • Rusaknya kepadatan tulang.
  • Rusaknya lapisan gigi.
  • Ruam pada kulit yang terasa gatal dan lecet (dermatitis herpetiformis).
  • Nyeri pada sendi.
  • Gangguan keseimbangan tubuh.
  • Gangguan fungsi limpa.
  • Nyeri ulu hati.
Gejala yang biasanya dirasakan oleh bayi penderita penyakit celiac adalah:
  • Rasa sakit.
  • Diare kronis.
  • Perut kembung.
  • Turunnya berat badan hingga kegagalan tumbuh-kembang.
Sedangkan pada anak-anak penderita penyakit celiac, gejala yang mungkin dirasakan adalah:
  • Konstipasi.
  • Diare.
  • Tinggi tubuh di bawah rata-rata.
  • Pubertas terlambat.
  • Gangguan neurologi, seperti ADHD, ketidakmampuan belajar, sakit kepala, dan koordinasi otot yang buruk.

Penyebab dan Faktor Resiko Penyakit Celiac
Penyakit celiac disebabkan oleh reaksi tidak normal dari sistem kekebalan tubuh penderita terhadap gluten. Ini merupakan contoh penyakit autoimun. Namun, penyebab pasti dari reaksi tidak normal sistem kekebalan tubuh ini masih belum diketahui sampai saat ini.
Karena menganggap gluten sebagai ancaman, maka sistem imun tubuh akan memproduksi antibodi. Zat antibodi ini akan membuat bulu-bulu halus (villi) di permukaan usus menjadi rusak, sehingga proses penyerapan nutrisi dari makanan menjadi tidak sempurna.
Terkadang, penyakit celiac baru aktif untuk pertama kalinya sesudah prosedur pembedahan, ketika kehamilan dan kelahiran, karena infeksi virus atau gangguan emosional parah. Berikut ini beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit celiac:
  • Faktor keturunan. Jika memiliki anggota keluarga yang mengidap penyakit celiac, maka risiko untuk terkena penyakit celiac juga lebih besar.
  • Faktor lingkungan. Seseorang yang pernah mengalami infeksi sistem pencernaan, seperti infeksi rotavirus, saat masih anak-anak akan memiliki risiko lebih besar terkena penyakit celiac.
  • Kondisi kesehatan. Beberapa penyakit seperti diabetes tipe 1, kolitis ulseratif, gangguan saraf, down syndrome, sindrom Turner, sindrom Sjorgen, dan penyakit autoimun bisa meningkatkan risiko terkena penyakit celiac.


Diagnosis Penyakit Celiac
Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda yang dialami oleh pasien. Ada beberapa prosedur diagnosis yang akan dijalankan dokter jika pasien dicurigai mengidap penyakit celiac, yaitu:
  • Tes fisik.
  • Tes darah. Meningkatnya kadar beberapa zat dalam darah bisa mengindikasikan reaksi kekebalan tubuh terhadap gluten.
  • Biopsi. Jika hasil tes darah pasien positif terkena penyakit celiac, maka dokter akan memasukkan endoskop ke dalam usus untuk mengambil sampel jaringan usus guna diperiksa di laboratorium.
  • Endoskopi kapsul. Pasien akan menelan kamera nirkabel seukuran kapsul vitamin untuk mengambil gambar-gambar kondisi seluruh usus kecil dari dalam.
  • Biopsi kulit. Jika pasien terlihat mengidap dermatitis herpetiformis, maka diperlukan pengambilan sampel kulit untuk memastikannya.
  • DEXA scan. Dalam beberapa kasus penyakit celiac, pasien akan menjalani pemeriksaan kepadatan tulang dengan DEXA scan. 


Pengobatan Penyakit Celiac
Untuk menangani penyakit celiac, biasanya dokter akan menyarankan penderita untuk menghindari makanan yang mengandung gluten dengan menjalankan program diet bebas gluten. Hal ini dilakukan untuk mencegah rusaknya dinding usus dan gejala diare serta nyeri perut.
Selain pada makanan, gluten juga bisa terdapat pada obat-obatan, vitamin, bahkan lipstik. Beberapa makanan alami yang BEBAS gluten dapat dikonsumsi, contohnya daging dan ikan; sayuran dan buha; produk olahan susu seperti keju, mentega, dan susu; kentang; beberapa jenis tepung bebas gluten seperti tepung beras, tepung jagung, tepung kedelai, dan tepung kentang; dan nasi
Program diet bebas gluten juga mampu menghilangkan ruam gatal (dermatitis herpetiformis) dari kulit penderita, ditambah dengan pemberian obat-obatan. Dokter juga umumnya meresepkan obat-obatan steroid untuk meredakan peradangan usus kecil.
Untuk bayi penderita penyakit celiac, jangan berikan makanan yang mengandung gluten sebelum ia berusia enam bulan. Biasanya, ASI dan semua susu formula bayi bebas dari kandungan gluten.
Pada beberapa kasus, penyakit celiac bisa menyebabkan kerja limpa kurang efektif sehingga penderita rentan terkena infeksi. Oleh karena itu, penderita membutuhkan vaksinasi ekstra seperti:
  • Vaksin flu.
  • Vaksin Haemophillus influenza type B dan meningitis C (HiB-MenC) yang melindungi dari sepsis, pneumonia, dan meningitis.
  • Vaksin pneumokokus.

Dokter juga akan menyarankan penderita untuk mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral. Hal ini untuk menjamin penderita mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan.

Komplikasi Penyakit Celiac
Jika penyakit celiac tidak ditangani atau tetap mengonsumsi makanan yang mengandung gluten, maka ada beberapa komplikasi yang bisa diidap penderita yaitu:
  • Malabsorpsi dan malnutrisi. Tubuh penderita tidak bisa menyerap sempurna nutrisi yang bisa mengakibatkan anemia defisiensi zat besi, osteoporosis, turunnya berat badan, pertumbuhan terhambat, kelelahan, pusing, dan kebingungan.
  • Infertilitas dan keguguran. Kurangnya kalsium dan vitamin D bisa menyebabkan gangguan pada organ reproduksi.
  • Intoleransi laktosa. Penderita akan berisiko intoleransi laktosa karena tubuhnya kekurangan enzim untuk mencerna laktosa, yang biasanya ditemukan pada produk susu seperti keju, susu, atau yogurt.
  • Kanker. Penderita penyakit celiac memiliki risiko lebih besar terkena kanker usus dan limfoma usus.
  • Berat badan bayi lahir rendah. Risiko ini lebih tinggi pada ibu hamil dengan penyakit celiac yang tidak terkontrol.

E. Coli



 
Escherichia coli atau disingkat E. coli adalah bakteri yang umum ditemukan di dalam usus manusia. Bakteri ini terdiri beberapa jenis dan sebagian besar di antaranya tidak berbahaya. Itu artinya bahwa hanya segelintir jenis bakteri E. coli yang dapat merugikan kesehatan.
Salah satu bakteri E. coli yang berbahaya adalah E. coli O157:H7. Bakteri ini bisa menyebabkan keracunan makanan dan infeksi yang cukup serius. E. coli O157:H7 dapat menghasilkan racun yang mampu merusak dinding dari usus kecil dan mengakibatkan kram perut, diare yang bercampur dengan darah, hingga muntah-muntah.


Penyebab Terjadinya Infeksi E. coli

Bakteri E. coli yang berbahaya, dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui:

  • Makanan yang terkontaminasi. Cara yang paling umum bagi seseorang bisa terinfeksi bakteri coli adalah melalui makanan yang telah terkontaminasi bakteri ini. Misalnya, akibat mengonsumsi daging giling yang tercemar bakteri E. coli dari usus hewan ternak tersebut, meminum susu yang tidak dipasteurisasi, atau memakan sayuran mentah atau yang tidak diproses secara benar. Kontaminasi silang juga dapat mengakibatkan seseorang mengalami infeksi, khususnya jika peralatan makanan dan talenan tidak dicuci dengan benar sebelum digunakan.
  • Air yang terkontaminasi. Kotoran manusia dan binatang bisa mencemari air tanah dan juga air di permukaan. Rumah dengan sumur pribadi sangat berisiko tercemar bakteri coli karena biasanya tidak memiliki sistem pembasmi bakteri, termasuk kolam renang atau danau.
  • Kontak langsung dari orang ke orang. Orang dewasa maupun anak-anak yang lupa mencuci tangan setelah buang air besar bisa menularkan bakteri ini ketika orang tersebut menyentuh orang lain atau makanan.
  • Kontak dengan binatang. Orang-orang yang bekerja dengan binatang (misalnya di kebun binatang) atau yang sering melakukan kontak dengan hewan peliharaan, lebih berisiko terkena infeksi bakteri E. coli. Untuk itu, kebersihan harus selalu dijaga dengan sering mencuci tangan setelah melakukan kontak dengan binatang tersebut.

Berikut ini beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terjangkit infeksi bakteri E. coli, di antaranya:

  • Usia. Anak-anak, ibu hamil, dan orang yang sudah lanjut usia rentan menderita penyakit-penyakit yang disebabkan oleh coli dan komplikasi yang lebih serius akibat bakteri ini.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah. Penderita AIDS atau orang yang sedang menjalani kemoterapi akan lebih berisiko terkena infeksi coli.
  • Penurunan kadar asam dalam perut. Asam yang diproduksi lambung bisa memberikan perlindungan terhadap bakteri coli. Beberapa obat-obatan pereda asam lambung seperti esomeprazole, pantoprazole, lansoprazole, dan omeprazole berpotensi meningkatkan risiko infeksi E. coli.

Gejala Infeksi E. coli
Gejala infeksi bakteri E. coli biasanya mulai dirasakan tiga hingga empat hari setelah tubuh terpapar oleh bakteri ini. Namun gejala bisa juga muncul sehari atau bahkan seminggu kemudian. Berikut ini adalah gejala-gejala yang umumnya muncul akibat infeksi E. coli:

  • Nyeri perut hingga
  • Diare, dengan tingkat keparahan ringan hingga parah, dan bahkan berdarah.
  • Kehilangan selera makan.
  • Mual dan muntah.
  • Demam.
  • Kelelahan.

Pada umumnya, infeksi E. coli dapat diobati di rumah dan dapat pulih dalam hitungan hari atau satu minggu. Namun, dianjurkan untuk segera menemui dokter apabila seseorang mengalami gejala berat sebagai berikut:

  • Diare yang tidak menunjukkan tanda-tanda membaik setelah lima hari pada orang dewasa, atau selama dua hari pada bayi dan anak-anak.
  • Demam disertai diare.
  • Muntah-muntah selama lebih dari 12 jam. Jika terjadi pada bayi di bawah usia tiga bulan, segera temui dokter anak.
  • Munculnya gejala dehidrasi, seperti jumlah urine menurun, merasa sangat haus, atau kesadaran menurun.
  • Tidak bisa mempertahankan cairan dalam tubuh.
  • Sakit perut tidak hilang setelah buang air besar.
  • Mengalami infeksi usus setelah berpegian ke luar negeri.
  • Tinja yang bercampur dengan nanah atau darah.

Diagnosis dan Pengobatan Infeksi E. coli
Untuk mendiagnosa adanya infeksi bakteri E. coli dan racun terkait dalam tubuh pasien, dokter akan melakukan tes laboratorium melalui sampel tinja. Pengobatan akan disarankan sesuai dengan kondisi yang dialami.
Bagi yang mengalami infeksi ringan, pengobatan dapat dilakukan di rumah dengan mengonsumsi air putih, jus buah, atau minuman soda bening secara cukup untuk mencegah dehidrasi. Hindari jus apel, pir, kopi dan minuman beralkohol selama proses pemulihan.
Selain itu, konsumsilah makanan berkuah atau ringan saat gejala masih terasa, dilanjutkan dengan makanan rendah serat seperti telur, nasi, atau roti saat kondisi mulai membaik. Hindari makanan yang mengandung susu, lemak, berserat tinggi, atau makanan berbumbu agar gejala tidak memburuk.
Infeksi E. coli, baik pada kandung kemih (cystitis) maupun saluran cerna, biasanya tidak perlu diberikan antibiotik. Penderita hanya perlu mengonsumsi air putih dalam jumlah banyak untuk menggantikan cairan yang hilang akibat diare dan muntah-muntah, serta beristirahat secara cukup.
Untuk mengatasi dehidrasi pada anak yang mengalami diare, oralit bisa membantu memulihkan cairan dalam tubuh mereka. Selain itu, oralit juga berfungsi menggantikan natrium, kalium, dan juga glukosa yang hilang dari dalam tubuh. Jangan memberikan obat-obatan antidiare yang dapat melambatkan sistem pencernaan karena obat ini akan mencegah terbuangnya racun keluar dari tubuh.
Jika infeksi E. coli yang terjadi cukup serius dan menyebabkan sindrom hemolitik uremik, penderita biasanya perlu mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Komplikasi Infeksi E. coli
Walau jarang, penderita infeksi E. coli berpotensi mengalami komplikasi yang dinamakan sindrom uremik hemolitik (HUS). Sindrom ini dapat memicu terjadinya gagal ginjal dan membahayakan nyawa jika tidak segera diobati.
Selain itu, anak-anak umumnya lebih rentan mengalami komplikasi dikarenakan ketidakmampuan mereka dalam bertahan saat kekurangan cairan dan darah yang keluar melalui muntah dan diare.


Pencegahan Infeksi E. coli

Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi bakteri E. coli, di antaranya:

  • Mencuci tangan setelah menyentuh binatang atau bekerja di lingkungan dengan banyak binatang.
  • Mencuci tangan hingga bersih sebelum memasak, menyajikan, atau mengonsumsi makanan.
  • Mencuci sayur dan buah hingga bersih sebelum dikonsumsi.
  • Hindari kontaminasi silang dengan memisahkan peralatan masak dan makan yang bersih dengan yang kotor.
  • Jauhkan daging mentah dari makanan matang dan benda bersih lainnya.
  • Memasukkan makanan sisa ke lemari pendingin agar tidak terjangkit bakteri.
  • Hindari mengonsumsi susu mentah atau yang tidak dipasteurisasi.
  • Jangan menyiapkan atau memasak makanan jika Anda sedang diare.
  • Sering mencuci tangan, terutama setelah keluar dari toilet.
  • Tidak meminum air dari kolam renang.